PKS Jaktim
Home OPINI BELAJAR DARI KISAH LARA BUNDA HAWA

BELAJAR DARI KISAH LARA BUNDA HAWA

0
535
Yetti Nalurita (Penulis Komunitas Insta)

Oleh :Yetti Nalurita

Jauh sebelum Hawa diciptakan, 50.000 tahun sebelumnya, telah tertoreh satu taqdir untuk makhluk baru bernama perempuan. Makhluk baru yang pranata hidupnya berbingkai syariat yang terlihat lebih ketat dan mengikat. Makhluk baru yang terlihat lemah, namun Allah justru memilihnya memikul tugas berat sebagai pengukir dan penentu peradaban anak manusia.

Dari Ibunda Hawa kita belajar. Beliau adalah perempuan sekaligus seorang ibu yang pertama kali harus merasakan kegundahan dan sakitnya patah hati akibat ulah sang anak. Saat dirinya harus menangis lantaran kehilangan salah satu putranya yang dibunuh oleh putranya yang lain. Pada saat bersamaan, hatinya harus menahan remuk redam atas tragedi yang selamanya akan tercatat dalam kelam sejarah kehidupan anak manusia.

Air mata bunda Hawa mengalir deras. Tidak ada ibu yang rela kehilangan seorang anak, namun susah bagi hati selembut ibu untuk bisa lugas menghujat dan mengutuk kedurhakaan anaknya. Sejahat apapun perbuatan yang dilakukan oleh makhluk yang pernah menghuni kehangatan rahimnya itu.

Belajar dari ibunda Hawa…mari menyelami sisi terang gelap peran keibuan kita. Benar, bahwa setiap anak membawa takdirnya sendiri. Benar, bahwa anak adalah milik zamannya. Benar bahwa, ada mimpi-mimpi kita yang tak boleh mencabut dan melukai pilihan serta ego anak-anak kita.

Namun ingatlah, kita pernah memiliki masa dimana anak-anak itu hanya mau mencecap apa yang ibunya katakan. Titah ibu serasa doktrin yang takkan terbantahkan. Masa dimana anak tidak ingin ibunya marah. Masa dimana dirinya ikut bersedih tatkala melihat sang ibu menangis. Mari lebih seksama merengkuhi masa itu…

Karena masa itu tidak lama. Masa yang harus kita tempuhi dalam kesabaran agar sisi fitriah anak kita menemui garis alirnya. Hingga qalbu dan akal sang anak memadu padu dalam bingkai syareat yang sempurna.

Sungguh masa itu tidak lama. Tidak sebanding usia keibuanmu yang jauh lebih lama menuntut masa bakti anak-anakmu.

Saat nasehatmu dianggap angin lalu. Saat tangismu tak jua merubah perilaku. Tidakkah itu cukup menyesakkan dadamu, duhai ibu!? Bahkan nanti, saat kita semua menemui hari yang sangat berat, saat seorang anak yang durhaka terhadap ibunya ternyata tak layak atas kenikmatan surga!?
Tidakkah itu cukup menjadi pukulan bagimu duhai ibu???

Untukmu ibu…mari merenungi satu hadits ini. Hadits yang akan menuntun kita untuk mengilmui lebih banyak lagi peran besar keibuan kita,

“Sebaik-baik wanita adalah wanita Quraisy , yang paling lembut dan simpati pada anak di masa kecilnya, dan paling bisa menjaga harta suaminya”. (HR. Bukhari).

Untukmu ibu… tubuhmu memang diciptakan untuk lebih kuat memeluk. Hati dan lisanmu lebih dalam dan lama merapalkan doa untuk anak-anakmu. Anak-anak yang kau didik sepenuh hati. Anak-anak yang akan membawa zaman ini menuju kegemilangan peradaban manusia.

Previous articleIbu dan Pendidikan Perempuan
Next articleDahsyatnya Cinta Ibu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here