PKS Jaktim
Home OPINI Visi keluarga surgawi

Visi keluarga surgawi

0
824
Yetti Narulita (Penulis Komunitas Insta)

Keluarga adalah miniatur peradaban terkecil yang paling mudah untuk menilai sehat sakitnya sebuah negara. Ada banyak negara maju yang nampaknya baik-baik saja, namun sejatinya, merapuh di unit sosial terkecilnya. Keluarga-keluarga yang menjadi penghuni negara tersebut, tidak lagi mengindahkan nilai-nilai fitrah mereka saat meleburkan diri dalam ikatan pernikahan. Benar… fitrah manusia, nilai-nilai pasti yang dimiliki semua manusia. Saling menyayangi, menjaga dan menyukai kebersamaan adalah fitrah yang terbangun di dalam pernikahan. Meski pada akhirnya, semua bisa hilang karena alibi dan ego di setiap individu yang telah cacat fitrahnya. Jika sudah demikian keadannya, sungguh mudah menebak apa yang akan terjadi didekade perjalanana bangsa itu selanjutnya.
Maju mundurnya sebuah peradaban yang dicapai oleh bangsa dimanapun, sejatinya bukan semata terletak pada kemajuan secara materi. Islam adalah peradaban yang sangat maju dengan usia peradabannya yang panjang lebih dari 1400 tahun. Kemajuan peradaban yang berawal dari sesuatu yang rohani merambah pada kemegahan materi yang tertangkap indra manusia. Fisik kejayaan peradaban islam bisa kita saksikan pada kemegahan istana Al Hamra diketinggian pegunungan Al Sabikha, atau rapinya tata kota Islambul Utsmaniyyah, atau kemajuan teknologi di era kekhalifahan Islam. Teknologi pertanian, astronomi, teknik, kedokteran dan di semua lini bidang teknologi, Islam telah meninggalkan jejak kejayaannya.
Belajarlah dari mereka yang kisahnya bisa kita baca dan tadaburi untuk kemudian kita bawa pelita kisah ini dalam keluarga kita.
Ambillah hikmah dibalik kisah bagaimana Nabi Muhammad saw, para sahabat, tabi’in hingga salafus saleh membina keluarga mereka. Mereka adalah insan terbaik yang dalam memburu keridaan Rabb-nya disetiap langkah dan pilihan yang diambil. Visi mukminin yang meletakkan akhirat sebagai tujuan utama, dan dunia adalah wasilah tercapainya akhirat. Tidak ada nilai yang dikurangi, terlebih lagi berbalik nilai. Merekalah insan yang bersemangat membawa kebaikan dimuka bumi, dan menjaganya karena Allah.
Mereka adalah hamba-hamba Allah yang pantang bergeser dari panduan syariat. Iman dan ilmu memandu, saat ayah dan ibu memanggul dan mengemban amanah beratnya yang pasti akan ditanyakan di satu hari yang paling berat yang pernah dirasakan anak manusia.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat- malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).
Tidakkah ayat ini menjadi alarm yang siap berdering jika hati ini sedikit saja berpaling?
Menjadi lecut saat kemaksiatan demi kemaksiatan mencederai visi surgawi keluarga kita?
Cukuplah makna ayat ini menjadi rujukan awal bagi mereka yang merindukan kegemilangan dan kemenangan Islam di bumi Allah. Jadikan dia pelita yang akan menjadi pemandu langkah dan penerang disaat tertimpa gelap masalah. Mulai dari keluarga kita, lentera itu akan berpendar menggemilangkan cahayanya.

Previous articleKesertaan RKI Jaktim dalam Peringatan Harganas & HAN DKI Jakarta
Next articleArti Sebuah Keluarga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here