Hari itu, dalam momen Sosialisas Perda Nomor 2 Tahun 2016 tentang Kepemudaan, puluhan pemuda “menggeruduk” Sekretaris Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta, M Taufik Zoelkifli atau akrab disapa MTZ, di Rawamangun.
Dalam acara yang menekankan protokol kesehatan ketat itu, MTZ terlebih dulu menjelaskan peran pemuda sebagaimana yang ada dalam peraturan daerah tersebut.
“Kepada siapa lagi kami yang sudah berumur ini menitipkan Jakarta? Jadi, dari sekarang, berhenti berbagi hal-hal buruk dan tidak produktif. Cari tahu hal-hal baru yang positif di media sosial,” urai MTZ.
Bersama dengan MTZ, hadir sebagai pembicara, influencer Instagram, Amar Ar-Risalah yang kerap mengajak orang membuka perpustakaan di @risalah_amar. Dia menjelaskan periodisasi media sosial, dan fungsinya masing-masing.
“Setiap media sosial selalu jadi kuat karena ada muatan ideologis dan fungsi sosial di sana. Jadi, kalau kita sudah tidak lagi mendapatkan muatan itu di sana, tinggalkan saja.”
Para pemuda kalangan milenial yang hadir sangat senang. Di antara mereka, ada yang membuka gerakan Pinjam Buku di Jakarta Timur, dan bercerita tentang aktivitasnya kepada MTZ.
Ada juga seorang pemuda yang secara kritis mempertanyakan, apa saja batas-batas membuat konten di media sosial. Menanggapi hal itu, pembicara kedua, Ika Meilani Untari Kasi Sumber daya Komunikasi Publik Dinas Kominfotik DKI Jakarta, menjelaskan hal-hal apa yang jadi “pagar” agar media sosial tidak mencelakakan penggunanya.
“Tentu, jangan membahas hal-hal sensitif seperti perbedaan pilihan politik, atau keburukan orang,” urai perempuan yang cukup aktif di berbagai media ini.
“Aturan dari pemerintah sebenarnya sudah jelas. Hanya saja, kadang kita lupa memberikan rem bagi jari kita sendiri,” tegasnya lagi.
Acara ini, diakhiri dengan saling follow dan unggah acara Sosperda kali ini. Di masa PPKM, tentu tak bisa terlalu banyak mengumpulkan massa. Oleh sebab itu, tim panitia benar-benar menjaga protokol kesehatan.



