Bagi para pelayan ilmu yang diberi kesempatan menyapa para jama’ah di beberapa negeri rantau, barangkali sesekali akan menjumpa pertanyaan yang polos namun pelik, musykil namun nyata, dan sepotong namun hakikatnya berlapis-lapis.

Seperti kala berada di Belanda pekan lalu. Kira-kira akan bagaimana Shalih(in+at) menjawab soal, “Saya punya kawan akrab. Dia seorang LELAKI muslim dari Indonesia. Tapi SUAMI dia PRIA Kristen Belanda. Nah suaminya ini meninggal, kemudian dia menyelenggarakan tahlilan dan mengundang kami. Sebagai teman dekat, tidak enak kalau tak datang. Kalau hadir, bagaimana hukumnya?”

Jawaban hukumnya mungkin bisa ringkas. Tapi bagi dakwah; di dalam 1 pertanyaan ini terkandung bertumpuk-tumpuk pra-soalan yang harus dijawab terlebih dulu, ada berbilang lubang yang harus ditambal terlebih dahulu, ada berlembar-lembar risalah yang menuntut waktu dan tempat lebih panjang agar tersampaikan.

Ah, perihidup manusia kadang memang tak sesederhana barisan huruf-huruf di buku rujukan kita.

Ada satu kisah dari Imam Asy Syafi’i yang menginsyafkan kita bahwa dalam berhubungan dengan manusia, kejelian seorang da’i harus diasah hingga bening. Seringkali, pertanyaan sejati tersembunyi dalam soalan zhahir yang diajukan. Lebih dalam. Tentang beliau, maka kita jadi ingat sabda Sang Nabi ﷺ; “Takutlah pada firasat seorang mukmin; sungguh ia melihat dengan cahaya Allah.”

Inilah si murid setia Rabi’ ibn Sulaiman menceritakan; ketika sang guru mengajar di Masjidil Haram; sering datang pertanyaan unik. Unik bahasanya, yakni dengan kiasan syair; unik pula penyampaiannya, yakni dengan kertas bertulis yang diberi ruang tuk menjawab.

Satu hari datanglah selembar kertas bertulis syair dengan tinta yang harum baunya. Rabi’-pun menyerahkannya pada Imam Asy Syafi’i. Sang Imam tersenyum sembari berkaca-kaca membacanya. Lalu beliaupun menuliskan syair di bawah tanya sebagai jawaban atasnya. Setelah kertas dilipat ulang; Rabi’ pun mengantarnya ke sudut di mana tadi ditemukan. Tak berapa lama seorang pemuda mengambilnya. Setelah membaca jawaban; dia juga menyunggingkan senyum dan matanya membasah. Lalu dia letakkan kertas itu sebelum berlalu. Rabi’-pun memungutnya.

Di situ tertulis;
“Tanyakan pada Mufti-nya Bani Muthalib & Hasyim.. Apa hukumnya peluk & cium rindu di kala dua kekasih bertemu.”

Dan dijawab;
“Katakan pada sepasang pencinta yang diberkahi.. Aku berlindung pada Allah jika taqwa dikalahkan syahwat menggebu.”

Merah padam muka Rabi’ ibn Sulaiman membacanya. “Sungguh pertanyaan yang tak pantas & jawaban yang juga tak layak!”, fikirnya. Bagaimana mungkin Imam Asy Syafi’i, gurunya yang sangat menjaga syari’at; terjebak menjawab syair nista semacam itu?

Imam Asy Syafi’i tersenyum lembut ketika Rabi’ menggugat dengan murka; “Apa maksudnya tukang maksiat disebut pencinta diberkahi?” Teduh Sang Imam menjelaskan; “Ketahuilah bahwa pertanyaan itu datang dari pasangan PENGANTIN BARU tentang hukum peluk & ciuman di SIANG HARI bulan RAMADHAN!”

Rabi’ ibn Sulaiman ternganga tak percaya. “Betulkah?”, tanyanya. “Kejar & tanyai dia jika kau tak percaya!” Ringkas cerita; kala Rabi’ menanyai si penyoal; dia memang pengantin baru & masalah yang diajukan persis seperti kata Sang Imam. Maka kian kagum Rabi’ ibn Sulaiman pada gurunya; sang pembaca makna, perangkai kata, penepat fatwa.

Semoga Allah menyayangi mereka. Moga kian tersemangati kita tuk mendalamkan ilmu, mempekakan rasa, menajamkan telaah, & mencintai sesama; hingga kebaikan meraja. Ya Allah, walau jauh dalam ‘ilmu & ‘amal, dekatkan kami ke derajat ‘ulama, kerana cinta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here